Big???!! Fat???!! so What??!!!

BIG…? FAT…? SO WHAT!!!
BY
Hasti Suci S.

PRINCESS FATRA. Mendengar namanya… apa kira-kira terbersit di dalam benak kalian? Cantik? Anggun? Atau bahkan seksi? Well, setelah kalian melihat sosoknya, kalian akan tau seberapa gendut dirinya. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah apakah kecantikan, keanggunan, dan keseksian seorang cewek di mata para cowok hanya secara fisik doang?
Tra pasti akan berteriak sekencang yang dia bisa hanya untuk berkata tidak.
Dia muak akan semua peraturan bahwa cewek yang ideal adalah cewek yang berukuran HARUS MESTI KUDU’ 26-36-26. Dia muak dengan semua cemoohan teman-temannya yang mengatai dirinya ‘princess fat’. Dia juga muak dengan orang tuanya yang telah memberinya nama ‘seindah’ itu.
Tetapi apakah semua kemuakannya itu harus dilampiaskan dengan sesuatu yang berbau negatif? Of course not. Tra sudah memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kecantikan innernya. Well, dia memutuskan untuk ikut The Queen of School Competition.
Semua orang hanya bisa melongo tak percaya saat melihat Tra menulis namanya di daftar kontestan yang telah disediakan di mading sekolah. Ini pukulan berat bagi Putri, cewek populer satu sekolahan sekaligus orang yang paling dibenci oleh Tra.
Sudah bukan gosip lagi kalau mereka adalah musuh bebuyutan. It’s real guys..
Karena kehadiran Putri, masa-masa SMA Tra nggak mengasyikkan banget. Setiap hari dia harus menerima ejekan ‘Miss Big’, ‘rakus’, bahkan ‘big pig’. Belum lagi ejekan dari satu kelas kalau namanya diabsen oleh para guru, itu satu ejeken plus buat Tra. Namun satu hal yang membuatnya betah duduk di bangku sudut paling belakang.
Yup! Siapa lagi kalau bukan Edgy, cowok yang disukainya setengah mati setelah Christiano Ronaldo tentunya. Dia lah orang pertama yang pernah membelanya saat Putri nempelin lem tikus di bangku Tra. Dan sejak saat itulah Tra mencapnya sebagai pangerannya.
Namun, dia hanya bisa memandangnya dari jauh. Edgy terlalu berharga, apalagi untuk cewek yang bodynya terlewat montok. Ya, inilah cara Tra menyukainya. Memendam, melihat, dan memimpikannya.
* * *
Inilah malam-malam yang paling mendebarkan hati Tra. Jantungnya berdegup tidak normal dan tak karuan. Yup! Malam dimana Tra memutus urat malunya dan tampil sebagai salah satu kontestan dalam The Queen of School Competition.
Tra memakai gaun berwarna peach rancangannya sendiri. Rambutnya terburai ikal nan anggun. Dan wajahnya begitu bersinar cemerlang meski make upnya hanya sebatas lip gloss dan bloss on. Dia terlihat mirip banget dengan boneka barby malam ini, tetapi dengan badan yang ekstra super pastinya. Tapi apakah kalian tau kalau di mata Edgy Tra terlihat sangat imut dan lucu?
* * *
Ada 25 finalis di kontes ini. Dan setiap finalis akan diberi pertanyaan dari juri yang ditunjuk secara acak. Pertanyaan itulah yang akan menentukan nilai dari para finalis.
“Putri August Weismann, apa yang paling membuatmu bahagia hidup di dunia ini?” Tanya salah satu Juri kepada Putri.
Putri tersenyum riang, ini pertanyaan yang paling mudah baginya. “Aku sangat bahagia dengan hidupku yang sekarang ini. Aku mensyukuri apapun yang aku miliki. Wajah yang cantik, kepopuleran, kecerdasan, dan orang tua yang selalu memenuhi keinginanku. Tak ada yang lebih membahagiakan dari itu,” jawab Putri.
Setelah 24 finalis lainnya sudah ditanyai, sekarang giliran Tra untuk tampil.
Tra berdiri gugup, pikirannya melayang-layang akan pertanyaan yang akan diterimanya. Apakah soal ekonomi? Geografi? Matematika? Atau politik?
“Princess Fatra,” panggil juri itu dengan sedikit cengiran. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia berusaha untuk menahan tawanya saat melihat orang yang dipanggilnya.
Tra melangkah maju dengan mantap dan percaya diri. Tak ada seorang pun yang bisa menghentikan langkahnya kali ini.
“Jika kamu harus lahir kembali, kamu pilih mau jadi siapa?”
Ini mengejek banget. Perasaan Tra teriris. Bahkan juri pun memandangnya sebelah mata. Bayangan-bayangan cemoohan dari Putri tiba-tiba teringat kembali di dalam benaknya.
Dengan mantap Tra menjawab, “Kalau memang aku harus lahir kembali, Aku tetap akan menjadi diriku sendiri yang sedikit lebih baik, lebih jujur, lebih ramah, lebih rajin, lebih bertanggung jawab, lebih berinisiatif, lebih berani, lebih bersyukur, sehingga juga bisa jadi lebih bermanfaat bukan hanya bagi diri aku aja, tetapi juga bagi para stakeholder maupun lingkungan hidup*.”
“Ehem… cantik itu tidak langsing, tidak gendut, tidak seksi, tidak anggun, tidak bodoh, atau semacamnya. Tetapi cantik itu diri sendiri. Guys, tidak ada satu pun cewek yang terlahir tidak cantik. Hanya perlu kesadaran dari diri kalian sendiri bahwa dirimu cantik.”
Sesudah menjawab pertanyaan itu, Tra langsung beranjak pergi meninggalkan panggung yang penuh ejekan itu.
Dia berlari menembus malam yang gelap. Dia tidak peduli apakah dirinya menang atau tidak, yeah… untuk badan super montoknya, dia pasti tidak akan menang. Well, setidaknya dia sudah bisa mengalahkan ketakutan di dalam dirinya sendiri.
Airmatanya menetes. Sedih dan bangga bercampur di sana.
Tra pun duduk di pinggir jalan menunggu taksi. Namun, sudah setengah jam, taksi-taksi itu tak kunjung datang.
“Hai…” Sapa seorang cowok yang membuat jantung Tra berdetak lima kali lipat dari biasanya.
“Edgy? Ngapain kamu disini? Nunggu taksi juga?” Tanya Tra gugup.
“Aku lihat kamu tadi.”
“Yeah… kamu pasti berpikir kalau aku tidak tahu malu. Seharusnya aku sadar kalau tempatku bukan di situ.”
Bukan tambahan hinaan yang terlontar dari mulut Edgy atau semacamnya, tetapi tangan Edgy yang hangat itu justru menggenggam tangan Tra yang kaku kedinginan kelamaan nunggu taksi.
“Karena tempatmu ada di sini,” katanya lembut sambil menekan tangan Tra tepat di dadanya.
Tra asli salting banget. Nyatakah yang dia rasakan malam ini? Atau ini hanya sebuah fatamorgana karena taksi yang tak kunjung datang?
Semuanya terjawab saat Edgy berkata, “Aku antar pulang ya?”
Well, malam ini Tra memang tidak memenangkan The Queen of School Competition, tetapi dia sudah memenangkan hati orang yang disukainya, hati Edgy. Dan itu lebih membahagiakan dari pada wajah yang cantik, kepopuleran, kecerdasan, dan orang tua yang selalu memenuhi keinginannya.
(*) Joger Jelek

1 komentar:

Wury mengatakan...

Cerpenmu bagus. Memang gendut selalu dipandang mata oleh mayoritas cowok, tapi selama cewek gendut percaya diri dan nggak merasa kegendutannya sebagai kekurangan, yakin deh inner beauty-nya keluar!! Hihihi

Salam kenal :)

Poskan Komentar


up